DPRD Medan Kecam Wakil Walikota Medan, ini Sebabnya

DataMedan,-Wakil Ketua Komisi C, Mulia Asri Rambe mengaku kecewa dengan pernyataan Wakil Walikota Medan, Akhyar Nasution yang menyebutkan kalimat ” ngapain kalian kemari, kalau mau jualan bukan disini tapi di sana” kepada pedagang pasar Marelan yang mengadu ke DPRD Medan, Rabu 21 Maret 2018.

Secara tegas, Bayek begitu sapaan akrabnya menilai pernyataan Akhyar itu dinilai tidak pantas dikeluarkan oleh seorang Wakil Walikota Medan kepada masyarakatnya.

Pernyataan Akhyar itu disampaikan para pedagang kepadanya saat menemui Komisi C DPRD Medan usai rapat paripurna PAW Proklamasi Naibaho.

“Tidak pantas seorang Wakil Walikota menyampaikan kalimat itu kepada masyarakatnya.Dan tolong kalian catat para awak media, Saya Bayek menegaskan bahwa Wakil Walikota Medan arogan!, ” tegasnya kepada sejumlah wartawan.

Kata Ketua DPD AMPI Medan itu, seharusnya dia (Akhyar-red) jika mengaku seorang Wakil Walikota dapat berbicara dengan baik kepada pedagang di pasar Marelan yang menuntut ketidakadilan akibat kisruh yang terjadi di pasar Marelan.

“Dan, dia (Akhyar-red) jangan lupakan bahwa saya lah yang membawanya untuk bersosialisasi kepada pedagang di pasar Marelan pada saat Pilkada Medan beberapa waktu lalu, ” katanya lagi.

Menurutnya, akibat ‘ulah’ Akhyar itu, membuat dirinya tercemar dihadapan masyarakat.

“ Sekali lagi saya tegaskan Saya yang membawa beliau (Akhyar,red) saat para pedagang melakukan aksi untuk menuntut keadilan atas hak-haknya.Justru jawaban yang diberikan sebagai pemimpin di Kota Medan ini tidak secara diplomatis,tapi terkesan sangat kasar.Akibat saat itu saya dicibir pedagang yang langsung mengatakan itukah sosok yang baik.Harus ini tidak perlu dilakukan saya sangat tersinggung sekali dan malu,” pungkasnya.

Sebelumnya saat itu puluhan pedagang mendatangi Gedung DPRD Kota Medan untuk menyampaikan aspirasinya agar legislatif memberi solusi karena usahanya dihambat oleh oknum-oknum PD Pasar.

“Kami bingung pak bagaimana bisa jualan. Kami letak barang di luar pajak, diusir. Kami coba masuk di pajak, malah diharuskan bayar Rp 30 ribu. Saya hanya pedagang salak pak, belum lagi jualan udah dipalak. Berapalah untung yang saya dapat, darimana saya harus bayar Rp 30 ribu setiap hari,” keluh seorang pedagang di pintu lobi Gedung DPRD Medan.

Pedagang lainnya menimpali, mereka juga diharuskan bayar lapak Rp 12 juta. Sementara kemampuan mereka hanya Rp 3 juta.

“Pedagang ini ada sekitar 400 an lebih yang belum dapat kios, sedangkan pihak PD Pasar mengatakan kios yang tersisa 120 lagi. Tapi harga kiosnya sangat mahal Rp 12 juta, bagaimana kami bisa bayar. Kami sudah mendaftar, bahkan sebagian dari kami udah membayar. Tapi tak dapat kios,” bilang pedagang pada Ketua Komisi C DPRD Medan, Hendra DS dan anggota komisi C lainnya, seperti Dame Duma, Mulia Asri Rambe dan Beston Sinaga yang menerima aspirasi mereka di depan pintu lobi DPRD Medan.

Share DataMedan

Tinggalkan Balasan