47 views

Paluta Berupaya ‘Mendulang’ PAD Dari Pariwisata

Sejak resmi berdiri pada 10 Agustus 2007 sesuai dasar hukum Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 37, Tahun 2007. Padang Lawas Utara (Paluta) terus tumbuh dan berbenah. Kini, setelah 13 tahun berdiri, Paluta mulai menata kehidupannya lebih baik.

Meski memiliki potensi besar dalam bidang pertanian dan perkebunan, Paluta sepertinya enggan berpangkutangan. Hal ini ditunjukan dengan upaya mendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sejumlah sektor diantaranya Pariwista. Melihat upaya serius Pemkab Paluta dalam mendulang PAD dari sektor Pariwisata, dinilai sangat beralasan. Setidaknya ada beberapa faktor yang meyakinkan publik bahwa langkah yang sedang dijajaki adalah langkah yang tepat dan terukur.

Faktor-faktor tersebut diantaranta letak wilayah Paluta yang sangat strategis, kearipan lokal, keragaman budaya, peninggalan sejarah, tersedianya fasilitas seperti hotel, bandara dan lainnya.Faktor-faktor di atas adalah sebagian kecil yang mencuat kepermukaan. Diyakini, banyak lagi instrumen yang mendukung kesuksesan Paluta dalam upayanya mendulang PAD di sektor wisata ini.

Keseriusan Pemkab Paluta dalam mewujudkan sektor pariwisata yang lebih baik ini ditunjukan dengan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Paluta yang digagas Dinas Pariwisata Paluta bekerjasama dengan Lempaga Penelitian Universitas Sumatera Utara.

Kepala Dinas Pariwisata Paluta, Eva Sartika Siregar. SH. Mkn mengungkapkan, Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan merupakan program yang sudah lama direncanakan dan baru tahun ini dieksekusi.

Kedepan, dengan pembangunan pariwisata di Paluta mengharapkan mampu mendorong ekonomi dan pembangunan serta mendongkrak PAD Kabupaten Paluta. “Dengan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan, diharapkan mampu mendorong dan menggerakan sektor ekonomi dan pembangunan serta mampu menjadi instrumen untuk menggali PAD bagi Pemkab Paluta,” jelas Eva saat didaulat memberikan sambutan dalam Focus Group Discussion yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemkab Paluta bersama Lembaga Penelitian USU di Aula Serbaguna Lembaga Adat Paluta Di Gunung Tua, baru-baru ini.

Dengan adanya Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan di Pemkab Paluta, kedepan diharapkan bisa mengetahui potensi dan pemetaan kawasan pariwisata di Paluta dan menjadi acuna dalam meningkatkan kerjasama.

Sekretaris Daerah Paluta, Burhan Harahap menyampaikan sambutan dalam focus Group Discussion yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemkab Paluta bersama Lembaga Penelitian USU di Aula Serbaguna Lembaga Adat Paluta Di Gunung Tua, baru-baru ini.(foto/mujahid)

Hal yang sama juga disampaikan, Bupati Paluta, Andar Amin Harahap, S.STP, M.Si yang diwakili Sekretaris Daerah Paluta, Burhan Harahap yang sangat mendukung upaya menumbuhkan sektor pariwisata di Paluta sebagai upaya menjabarkan visi Paluta sebagai Kabupaten yang Beriman, Maju, Cerdas, dan Beradab.

“Dengan kegiatan ini diharapkan bisa bersinergi dalam merancang pariwisata di Paluta dalam upayanya membangun sumber daya manusia dan ekonomi yang lebih baik,” ucapnya.

Ada banyak hal yang akan didapatkan dalam upaya menumbuhkan sektor pariwisata diantaranya Pariwisata pendukung penerimaan PAD, pemerataan pendapatan masyarakat, lapangan pekerjaan Sosio budaya dan terpeliharanya budaya. “Dengan kegiatan ini diharapkan bisa melakukan pendataan potensi pariwisata secara keseluruhan, ada progres dan kekhususan dalam rangka menumbuhkan ekonmi masyarakat dan pariwisata di Paluta,” jelasnya.

Dr.Arif SH.MH dari Lembaga Penelitia USU menyampaikan pemaparannya dalam Focus Group Discussion yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemkab Paluta bersama Lembaga Penelitian USU di Aula Serbaguna Lembaga Adat Paluta Di Gunung Tua, baru-baru ini.(foto/mujahid)

Paluta Miliki Potensi Besar

Sementar itu, Dr.Arif SH. MH dari Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU) menilai, Paluta memiliki potensi yang besar sbagai sebuah daerah. Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan dinilai sebagai langkah strategis dalam upaya melakukan terobosan-terobosan kedepan.

“Ini merupakan langkah yang sangat strategis, dimana Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan menjadi dasar untuk mewujudkan kepariwisataan yang unggul di Paluta,” ungkap Dr Arif.

Disampaikannya juga, dalam mewujudkan pembangunan kepariwisataan, Dr Arif mengharapkan kepada Pemda Paluta agar membangun sinergitas yang kuat dengan masyarakat terutama dengan para pemangku kepentingan di Paluta seperti para ketua-ketua adat.

“Jadi ini sangat penting sekali, pariwisata dibangun bukan semata untuk mendapatkan PAD tetapi jauh lebih penting masyarakat Paluta bisa berdaya. Jika pariwisata ini tumbuh maka dengan sendirinya perekonomian masyarakat juga akan tumbuh,” jelasnya.

Anggota DPRD Paluta terpilih PDI Perjuangan Nimrod Sitorus menyampaikan sejumlah masukan Focus Group Discussion yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemkab Paluta bersama Lembaga Penelitian USU di Aula Serbaguna Lembaga Adat Paluta Di Gunung Tua, baru-baru ini.(foto/mujahid)

Langkah Dinas Pariwisata Paluta Didukung DPRD

Anggota DPRD Paluta terpilih PDI Perjuangan Nimrod Sitorus mendukung langkah Dinas Pariwisata Paluta dalam melakukan terobosan membangun pariwisata. Pihaknya mengharapkan dengan potensi pariwisata yang ada di Paluta bisa dipromosikan hingga keluar.”Kita mendukung langkah ini agar pariwisata di paluta benar-benar bisa berkembang dan bisa dipromosikan hingga ke luar,” harapnya.

Nimrot yang juga Ketua Bapemperda mengatakan, yang paling penting dari pembangunan pariwisata di Paluta adalah infrastruktur ke kawasan wisata harus benar-benar baik. “Ini yang harus menjadi perhatian, infrastruktur ke kawasan kawasan wisata harus benar-benar baik dan dibenahi sehingga masyarakat lokal dan dari luar bisa benar-benar nyaman,” harapnya lagi.

Hal yang sama juga disampaikan Nimrod, Pemerintah Kabupaten Paluta diharapkan intens melakukan komunikasi dengan para pemangku adat, agar tercipta hubungan yang baik sehingga potensi kawasan wisata bisa maksimal.

P.Sitorus Ketua Adat di Paluta menyampaikan sejumlah masukan Focus Group Discussion yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemkab Paluta bersama Lembaga Penelitian USU di Aula Serbaguna Lembaga Adat Paluta Di Gunung Tua, baru-baru ini.(foto/mujahid)

Adopsi Nilai Budaya

Tidak berbeda dengan Nimrod Sitorus, P.Harahap salah satu ketua adat di Paluta menghadapkan Pemkab Paluta dan Dinas Pariwisata bisa menggali nilai-nilai budaya di kawasan Paluta sehingga produk-produk yang dihasilkan dan dipasarkan di kawasan pariwisata bisa benar-benar sesuai dengan kultur orang Paluta.

“Di paluta sangat banyak yang bisa ditonjolkan, dari mulai kuliner, budaya hingga kerajinan. Ini sangat penting dikedepankan sebagai upaya menginformasikan identitas Budaya Paluta,” ungkapnya.

Ketua-ketua adat di Paluta juga mengharapkan, tradisi budaya seperti tariat, alat musik perlu dimaksimalkan dimana di sejumlah lokasi wisata bisa dilakukan pentas seni yang menampilkan pagelaran seni khas paluta. “Kita memiliki alat musik semisal gordang sembilan dan pentas seni lainnya,” ucapnya.

Komplek Candi Bahal I di Desa Portibi, Kecamatan Padang Bolak, Padang Lawas Utara (foto/mujahid)

Komplek Candi Bahal

Yang paling unik dan ikonik dari Paluta adalah, komplek Candi Bahal di Desa Portibi, Kecamatan Padang Bolak, Padang Lawas Utara. Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan.

Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya. Memiliki tiga bangunan kuno yaitu Biaro Bahal I, II dan III yang saling berhubungan dan terdiri dalam satu garis yang lurus.

Biaro Bahal I yang terbesar. Kakinya berhiasan papan-papan sekelilingnya yang berukiran tokoh yaksa yang berkepala hewan, yang sedang menari-nari.Rupa-rupanya para penari itu memakai topeng hewani seperti pada upacara di Tibet. Di antara semua papan berhiasan itu ada ukiran singa yang duduk.

Di Bahal II pernah ditemukan sebuah Arca Heruka, yaitu arca demonis yang mewujudkan tokoh pantheon Agama Buddha aliran Mahayana, sekte bajrayana atau tantrayana. Heruka berdiri di atas jenazah dalam sikap menari; pada tangan kanannya ada tongkat. Bahal III berukiran hiasan daun.

Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti ‘dunia’ atau ‘bumi’ istilah serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta: Pertiwi (Dewi Bumi).

Keberadaan komplek Candi Bahal sepertinya kurang dimaksimalkan, Pengelolaan candi ini dibawah pengawasan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, Wilayah Kerja Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Banyak problematika dalam penataan candi bahal ini, salah satunya terkait dengan keengganan masyarakat di kawasan itu. “Kawasan ini pernah akan dibebaskan, dimana pemerintah akan membangun komplek ini menjadi kawasan wisata yang tertata seperti di daerah daerah lain. Namun kendala datang dari masyarakat yang enggan melepas tanhnya,” ucap Irfan Pulungan warga di kawasan tersebut.

Diakuinya, keengganan masyarakat sangat beralasan. Mereka enggan pindah dari kawasan tersebut dikarenakan hanya tanah di tempat itulah harta yang mereka miliki. “Keberadaan warga di kawasan ini sudah sangat lama, jadi mereka sudah nyaman dan enggan pindak ke tempat lain,” jelasnya.

Sejumlah pengunjung menikmati kawasan Komplek Candi Bahal III di Desa Portibi, Kecamatan Padang Bolak, Padang Lawas Utara. (foto/mujahid)

Kunjungan dari Malaysia Hingga Eropa

Ditarif Rp4.000/orang, siapa saja bisa berkunjung ke kawsan komplek candi bahal ini. Khusus bagi warga di kawasan Gunung Tua dan sekitarnya digeratiskan dengan menunjukan kartu indentitas. Seluruh pengunjung yang memasuki komplek candi diperkenankan untuk menuliskan buku tamu.

Di kawasan komplek Candi Bahal I, Dinas Pariwisata menempatkan sedikitnya tiga petugas jaga. Keberadaan mereka diantaranya untuk melayani informasi dan memandu sejumlah wisatawan lokal dan manca negara.”Tamunya banyak juga dari Malaysia, dan Eropa juga ada,” ungka Linda petugas jaga di Loket Candi Bahal I.Diakuinya sebelum adanya Pandemi Covid-19, wisatawan banyak berkunjung ke kawasan ini baik wisatawan lokal dan manca negara.

Kawanan gajah dan Pawang (Mahut) di kawasan Barumun Nagari Wild Life Sanctuary (BNWS) (foto/bnws)

Barumun Nagari Wildlife Sanctuary

Selain peninggalan sejarah seperti candi, Paluta juga memiliki daya tarik baru yakni dengan hadirnya Barumun Nagari Wild Life Sanctuary (BNWS). Barumun Nagari Wild Life Sanctuary merupakan tempat ekowisataberada di Desa Batu Nanggar, Aek Godang, Kecamatan Batang Onang, Padang Lawas Utara, Sumatra Utara, dikelola oleh Henry Sukaya, 39.

Di kawasan ini wisatawan akan disuguhi pengalaman dekat dengan gajah, merawat gajah, memberi makan dan melihat tingkah laku mereka di alam liar. Di BNWS gajah akan diperlakukan sebagai gajah, bermain, mandi, jalan, makan. Bila di manusia ada istilah memanusiakan manusia maka di BNWS menggajahkan gajah.

Gajah-gajah di sini punya sejarah-sejarah yang menyedihkan, mereka gajah korban konflik dengan manusia, datang ke BNWS dengan kondisi yang memprihatinkan.BNWS memulihkan mereka dan mengembalikan hak mereka sebagai gajah. Anda bisa bertemu dengan gajah-gajah ini dan melihat perilakunya yang menggemaskan.

Dr.Arif SH.MH dari Lembaga Penelitia USU dan pemilik BNWS Henry Sukaya saat berbincang di kawasan Ekowisata Barumun Nagari, Paluta baru baru ini.

Henry Sukaya, pemilik BNWS mengaku kawasan yang dimilikinya mencakup 600 Ha, dimana 150 Ha ditanami tanaman Sawit dan sisanya dijadikan kawasan untuk habibat hewan seperti Gajah, Harimau Sumatera.Dituturkannya, pengelolaan BNWS dilakukannya dengan mengandalkan hasil panen sawit. Dimana hasil panen sait, 50 persen dipergunakan untuk mengurus hewan hewan di BNWS dan 50 persen lainnya untuk keluarga.

Terkait dengan rencana Dinas Pariwisata menggeliatkan sektor Pariwisata, Henry Sukaya mengaku sangat mendukung upaya tersebut. “Ini terobosan baru, dan kami melihat Kepala Dinas Pariwisata Paluta hari ini memiliki keinginan yang kuat mengelola pariwisata di Paluta,” jelasnya.

Share DataMedan

Leave a Reply