17 views

Sineas Jogyakarta dari Rumah Sinema Watulumbung
Lirik Film “Sinandong Perawan” Produksi Fosad

Medan, – Para sineas Jogyakarta yang terhimpun di Rumah Sinema Watulumbung, mengapresiasi dan tertarik untuk membangun kerjasama penayangan film berbasis kearifan lokal masyarakat Melayu pesisir Sumatera Utara, “Sinandong Perawan” garapan H. Mansyur Nasution.

Menurut mas Boy Rivai, pimpinan Rumah Sinema Watulumbung, pihaknya tertarik menjalin kerjasama untuk penayangan film tersebut setelah menyaksikan thriller film ”Sinandong Perawan”.


“Kami bisa membantu penayangan film layar lebar yang bertemakan pendidikan dan syarat dengan muatan lokal itu di Solo dan Jogya. Juga di sejumlah TV Lokal yang ada di Indonesia,” katanya.


Bentuk kerjasamanya sendiri, kataMas Boy, saat ini sedang dalam pembahasan pihak Rumah Sinema Watulumbug dengan Mansyur Nasution dan Yan Amarni Lubis selaku Sutradara dan Asisten Sutradara film tersebut.


“Sinandong Perawan” adalah film perdana karya Mansyur Nasution dengan kameramen Bukhari Lubis. Film ini diproduksi oleh Forum Sastrawan Deliserdang (Fosad) bekerjasama dengan Teater Serumpun dan Universitas Muslim Nusantara (UMN) Medan.


Dibintangi oleh Yan Amarni Lubis, Burhan Polka, Wani Sitepu, Fauziah Adla Hasibuan, Assyifa Putri, Suhery Sasmita dan lain-lain, “Sinandong Perawan” berkisah tentang seorang gadis belia bernama Fatimah yang dipaksa menikah dengan suami kakaknya yang telah meninggal dunia, yang dalam budaya masyarakat Melayu disebut sebagai “Ganti Tikar”.


Tapi Fatimah adalah perempuan pembeda di kampungnya. Di tengah derasnya arus nikah dini dan rendahnya minat berpendidikan formal di kehidupan masyarakat kampungnya, Fatimah justru bertekad pergi merantau ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.

Fatimah kukuh dengan pendiriannya meski pun orangtuanya terus memaksa agar dia mau menerima lamaran Sodik, juragan kapal ikan, suami mendiang kakaknya.


Tapi penolakan Fatimah itu ternyata membuat juragan Sodik gelap mata. Dia tak hanya membujuk dan mengguna-gunai Fatimah lewat dukun kampung, tapi juga membayar orang-orang suruhan untuk menculik Fatimah.

Namun Fatimah tak goyah hatinya. Apalagi Datuk Pawang, bapak Semang Fatimah di perantauan, ikut menguatkan jalan pikiran Fatimah untuk terus sekolah demi mewujudkan cita-citanya sebagai guru bagi anak-anak di kampungnya.

Film ini berakhir dengan happy ending. Juragan Sodik ditangkap polisi dan dipenjara atas perbuatan kriminal yang dilakukan orang-orang suruhannya. Sedang Fatimah berhasil menyelesaikan kuliahnya dan akhirnya diterima menjadi guru.

Film layar lebar berdurasi 75 menit ini, sepenuhnya diproduksi dari hasil gotong royong para seniman film, sastrawan dan teaterawan di Medan dan Deliserdang.

Diangkat dari cerita pendek berjudul “Perawan Dari Seberang” karya Sastrawan Sumut, Sulaiman Sambas, menurut Mansyur Nasution konsep pembuatan dan juga pendanaan dalam pengerjaan film “Sinandong Perawan” sepenuhnya merupakan hasil kerjasama para seniman.

“Tidak sepeser pun dana pembuatan film ini mendapat bantuan dan dukungan dari instansi pemerintah,” katanya.

Ditambahkannya, ia sengaja memilih Cerpen karya Sulaiman Sambas yang bertema pendidikan yang mengambil setting kehidupan masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Utara ini, yang umumnya berprofesi sebagai nelayan, sebagai cerita untuk filmnya, demi menunjukkan kepada penonton akan keteguhan hati seorang perempuan muda dalam mewujudkan cita-citanya menjadi guru, sekaligus memperlihatkan kearifan budaya lokal masyarakat Melayu pesisir meskipun kehidupan mereka secara ekonomi serba sulit.

Sedangkan terhadap tawaran kerjasama ini, baik Mansyur maupun Yan Amarni berharap, jika kerjasama dengan sineas Jogyakarta ini bisa terwujud dan berjalan sukses, akan ada kerjasama lainnya dalam bentuk pelatihan, workshop maupun produksi film bersama di masa-masa berikutnya.(DM/rel)

Share DataMedan

Leave a Reply