H. Ansory Siregar, Lc: Indonesia Kuat dengan Empat Pilar Berbangsa
Tanjungbalai,- Anggota DPR RI, H. Ansory Siregar, Lc, melaksanakan kegiatan sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara di bumi Melayu, tepatnya di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.
Dalam kegiatan tersebut, Ansory Siregar menekankan pentingnya penanaman kembali nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan kepada generasi muda agar dapat dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam setiap tindakan anak bangsa.
Ia mengungkapkan bahwa sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi, Indonesia kerap disebut sebagai negara berkembang. “Pertanyaannya, kapan Indonesia benar-benar menjadi negara maju?” cetus Ansory di hadapan peserta sosialisasi.
Oleh karena itu, menurutnya, setiap anak bangsa perlu mempelajari kembali Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.
Selain itu, Ansory juga menegaskan pentingnya penanaman rasa nasionalisme yang dinilainya mulai memudar di tengah masyarakat. Ia menyinggung persoalan kekayaan sejumlah pihak yang disimpan di perbankan luar negeri serta mengkritisi Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang dinilainya cenderung mengakomodasi kepentingan pengusaha atau kapitalis, namun mengabaikan kepentingan buruh dan pekerja.
Kegiatan sosialisasi tersebut digelar di Hotel Musyaffa, Kota Tanjungbalai, Selasa (9/12/2026), dan dihadiri kalangan milenial, pemuda, tokoh adat, tokoh agama, serta para guru.
Ansory Siregar menjabarkan bahwa Empat Pilar Kebangsaan merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus dijaga dan dipelihara oleh seluruh rakyat Indonesia.
“Dengan memahami dan memegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan, kita akan memiliki kekuatan sebagai bangsa untuk menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal,” ujarnya.
Secara rinci dan penuh semangat, Ansory menjelaskan satu per satu pilar kebangsaan, dimulai dari Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang harus diterapkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menutup kegiatan sosialisasi, Ansory Siregar mengajak enam peserta dari latar belakang suku dan bahasa yang berbeda untuk naik ke atas panggung dan berbicara menggunakan bahasa masing-masing. “Lihatlah, bahasanya berbeda-beda, tetapi kita tetap satu dan bersatu,” pungkasnya.



