H.Ansory Siregar Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Simalungun, Tekankan Nasionalisme Generasi Muda
Simalungun,-Anggota DPR RI, Ansory Siregar, kembali melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara di SMPIT Yayasan Permata Cendekia, Jalan Aek Nauli, Margomulyo, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Rabu pagi (11/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ansory Siregar menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan kepada para siswa, tenaga pendidik, serta masyarakat. Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap Empat Pilar akan membentuk karakter dan sikap generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.
“Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara harus terus ditanamkan agar generasi penerus bangsa tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami serta mampu mengamalkan nilai-nilainya,” ujar Ansory.
Pada kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya memperkuat rasa nasionalisme di tengah masyarakat. Menurutnya, nasionalisme merupakan fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terutama di tengah derasnya arus globalisasi, khususnya di daerah pemilihannya di Kabupaten Simalungun.
Selain memberikan pemahaman kebangsaan, Ansory juga menyinggung persoalan kekayaan sejumlah pihak yang disimpan di luar negeri. Ia turut mengkritisi Undang‑Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang dinilainya masih lebih banyak mengakomodasi kepentingan pengusaha besar dan belum sepenuhnya berpihak kepada buruh dan pekerja.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini diikuti oleh para siswa, guru, serta masyarakat umum. Dalam pemaparannya, Ansory menjelaskan bahwa Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang‑Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
“Keempat pilar ini merupakan fondasi utama yang harus kita jaga dan pelihara bersama sebagai rakyat Indonesia,” tegasnya.
Dengan penuh semangat, Ansory juga mengajak peserta memahami pentingnya menjaga keutuhan NKRI sebagai harga mati yang wajib dipertahankan seluruh anak bangsa.
Menutup kegiatan, Ansory Siregar mengundang empat peserta dari latar belakang suku dan bahasa berbeda untuk menyampaikan pidato singkat menggunakan bahasa daerah masing-masing. Menurutnya, hal tersebut merupakan contoh nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa.
“Inilah semboyan kita, berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia,” pungkasnya.


