Peristiwa

Ansory Siregar: Pelajar Harus Memahami Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara

Indrapura,-Anggota DPR RI, H. Ansory Siregar, Lc, kembali melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara di Desa Aras, Kecamatan Indrapura, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Kegiatan tersebut berlangsung di Sekolah Yayasan Pendidikan Al-Izzah, Selasa siang (3/2/2026).

Dalam sambutannya, Ansory Siregar menekankan pentingnya menanamkan kembali pemahaman Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara kepada generasi muda, khususnya para pelajar. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus benar-benar dihayati agar dapat diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.

“Empat pilar ini harus dihujamkan kembali kepada anak-anak bangsa, agar mereka tidak hanya mengerti dan memahami, tetapi juga mampu merasakan maknanya dalam setiap perbuatan,” tegas Ansory.

Pada kesempatan tersebut, Ansory juga menguatkan pentingnya menumbuhkan rasa nasionalisme di tengah para pelajar dan tenaga pendidik. Ia menyampaikan bahwa nasionalisme merupakan fondasi utama menuju kemajuan bangsa Indonesia, terutama di tengah derasnya arus globalisasi.

Ansory turut menyinggung fenomena kekayaan sejumlah pihak yang disimpan di bank-bank luar negeri, serta mengkritisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Menurutnya, regulasi tersebut cenderung lebih mengakomodasi kepentingan pengusaha kapitalis dibandingkan kepentingan buruh dan pekerja.

Lebih lanjut, Ansory menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014, setiap anggota MPR RI memiliki kewajiban untuk menyosialisasikan dan memasyarakatkan Empat Pilar MPR RI kepada masyarakat. Kegiatan sosialisasi ini, kata dia, merupakan bagian dari pelaksanaan tugas konstitusional tersebut di daerah pemilihannya.

Dalam pemaparannya, Ansory Siregar menjabarkan Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara, yakni Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Keempat pilar tersebut, menurutnya, harus dijaga dan dipelihara bersama oleh seluruh rakyat Indonesia.

Menariknya, di akhir kegiatan, Ansory mengundang lima peserta dari latar belakang suku dan bahasa yang berbeda untuk maju ke depan dan berpidato menggunakan bahasa daerah masing-masing.

“Lihatlah betapa indahnya semboyan kita. Bahasanya berbeda-beda, tetapi kita tetap bersatu. Inilah makna sejati Bhinneka Tunggal Ika,” pungkas Ansory disambut tepuk tangan para peserta.

Share DataMedan

Tinggalkan Balasan