Ansory Siregar : Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara Adalah Pondasi Kehidupan
Tanjungbalai ,-Anggota DPR RI H. Ansory Siregar, Lc kembali menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dilaksanakan di Gedung Artery Garden Cafe, Kota Tanjungbalai, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (29/7/2025).
Dalam kegiatan yang dihadiri kalangan milenial, tokoh adat, tokoh agama, dan para guru itu, Ansory menyampaikan bahwa Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ik, merupakan pondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Empat Pilar ini harus ditanamkan kembali kepada generasi muda agar mereka dapat memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ansory dalam sambutannya.
Ansory juga menyinggung kondisi Indonesia yang sejak dulu disebut sebagai negara berkembang. “Dari SD, SMP, SMA sampai kuliah, selalu disebut negara berkembang. Pertanyaannya, kapan kita menjadi negara maju?” ujarnya kritis.
Ia menekankan pentingnya penanaman kembali rasa nasionalisme, terlebih di tengah situasi saat ini yang cenderung menunjukkan gejala memudarnya semangat kebangsaan di masyarakat. Dalam kesempatan itu, ia juga mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Di antaranya, ia menyoroti UU Omnibus Law Cipta Kerja yang menurutnya lebih mengakomodasi kepentingan para pengusaha dan kapitalis, serta mengabaikan hak-hak buruh. “Inilah sebabnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan tegas menolak Omnibus Law Cipta Kerja,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kebijakan Tax Amnesty yang menurutnya tidak memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan negara, serta adanya indikasi kekayaan warga negara Indonesia yang disimpan di luar negeri.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014, setiap anggota MPR memiliki tanggung jawab untuk menyosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan kepada masyarakat. Dalam kesempatan itu, Ansory juga mengajak peserta untuk merefleksikan makna Bhinneka Tunggal Ika melalui kegiatan interaktif.
Menjelang akhir acara, Ansory mengajak sejumlah peserta dari berbagai latar belakang suku dan bahasa—seperti Jawa, Minang, Mandailing, Batak, dan Aceh—untuk berbicara di atas panggung menggunakan bahasa daerah masing-masing.
“Lihatlah, bahasa kita berbeda-beda, tapi kita tetap bersatu. Itulah makna sejati dari Bhinneka Tunggal Ika,” pungkasnya dengan penuh semangat.



